Trauma Pada Anak

  Trauma adalah penyimpanan emosi negatif yang tidak tertangani dengan baik. Trauma dapat menciptakan dampak negatif jangka panjang. Trauma dapat dialami oleh manusia di segala umur, termasuk oleh janin yang masih di dalam kandungan. Kejadian-kejadian yang berpotensi menimbulkan trauma pada anak, antara lain : Jatuh. Kecelakaan. Tindakan medis. Sesak napas. Hampir tenggelam Perpisahan yang mendadak. Bencana alam Mengalami kekerasan. Digigit binatang Menyaksikan kejadian mengerikan. Semakin kecil usia anak, semakin rentan terhadap trauma, sedang anak yang pernah trauma biasanya memiliki tingkat kerentanan yang tinggi terhadap trauma yang lain. Ciri-ciri anak yang mengalami trauma Rewel Mudah menangis Pola makannya berubah. Tubuh menjadi kurang seimbang Penurunan kemampuan. Kunci untuk menghindari atau meminimalkan trauma pada anak adalah dengan mengijinkan anak mengeluarkan emosi negatif. Bila anak sudah terlanjur trauma, peran orang tua menjadi seperti plester. Plester hanya pelindung luka tubuh, dan tidak menyembuhkan, yang menyembuhkan adalah tubuh itu sendiri. Demikian pula, yang dapat menyembuhkan trauma seorang anak adalah anak itu sendiri. Namun, bila trauma masih berkepanjangan, maka sangat disarankan untuk membawa anak ke psikolog atau konselor agar dapat ditangani secara...

Daycare

Fenomena working-moms adalah realita yang semakin banyak terjadi dan perlu disiasati. Bila kedua orang tua bekerja maka alternatif pengasuhan anak yang biasa dipertimbangkan adalah dititipkan ke kakek-nenek, atau dititipkan pada pengasuh di rumah, atau dititipkan di daycare yang mulai menjadi trend di kota-kota besar di Indonesia. Alternatif menitipkan anak di daycare tentunya memiliki kekurangan dan kelebihan sendiri. Kelebihan Day Care: Ada program pendidikan yang lebih komprehensif serta mainan edukatif bagi anak. Anak mendapat kesempatan bersosialisasi dengan anak-anak lain seusianya. Pengasuh diberi pelatihan khusus tentang pendidikan anak usia dini. Bila satu pengasuh sakit, ada pengasuh lain yang menggantikan. Sedangkan kekurangannya: Biaya pendaftaran dan bulanan daycare cukup tinggi. Menitipkan anak di daycare, orang tua perlu mengantar dan menjemput Anak yang dititipkan di daycare lebih terekspos pada penyakit, karena ia terekspos pada lebih banyak anak lain. Bila anak menderita sakit yang cukup serius, orang tua tetap perlu back-up plan karena tidak diperbolehkan berada di daycare sampai sembuh.   Ada beberapa hasil penelitian yang dapat dipertimbangkan: Good daycare are good for children, bad daycare are bad for children Menitipkan anak di daycare tidak otomatis membuat ikatan anak dengan orang tua rusak Oleh karena itu, bila orang tua memutuskan untuk menitipkan anak di sebuah daycare, orang tua perlu mempertimbangkan kualitas daycare...

Mengenal Tahap Pertemanan Anak

Pertemanan membentuk karakter anak, baik ke secara positif maupun negatif. Pertemanan pada anak memiliki beberapa tahap perkembangan sesuai perubahan usia anak. Semakin bertambah usia, anak semakin memahami temannya dan mempertimbangkan pertemanannya serta membangun hubungan pertemanan yang semakin dalam. Karakteristik umum dari masing-masing tahap pertemanan anak: Tahap pra-pertemanan (usia 1 bulan – 4 tahun), anak belum terlalu mampu membangun hubungan pertemanan yang bermakna. Untuk itu usahakan agar saat-saat dimana anak berada bersama anak lain menjadi saat yang menyenangkan bagi anak. Hal tersebut akan menjadi pondasi yang positif bagi pertemanan anak nantinya. Tahap 2 (usia 4 – 7 tahun), anak akan membangun hubungan pertemanan dengan tetangga yang rumahnya tidak terlalu jauh atau yang duduknya berdekatan di kelas. Bila tidak ada anak usia sebaya yang dapat diakses, kadang anak menciptakan teman imaginer untuk memenuhi kebutuhan pertemanannya. Tahap 3 (usia 7 – 10 tahun ), anak tidak lagi memilih teman berdasarkan kemudahan akses, melainkan berdasarkan kesamaan minat, kesamaan selera humor serta kesamaan kapasitas kontekstual teman untuk mengekspor dan melakukan hal-hal yang menyenangkan bersama-sama. Tahap 4 (usia 10 – 12 tahun), pada usia ini, hubungan pertemanan memiliki signifikansi yang makin besar, terutama bagi pembentukan konsep diri dan nilai diri...

Komunikasi Balita

Balita senang berbicara karena keingintahuan yang sangat besar, untuk mengembangkannya orangtua perlu berkomunikasi secara positif.   Beberapa panduan yang terkait hal itu: Pada saat anak berbicara, hentikan kegiatan yang sedang orangtua lakukan. Balita memang belum mampu bercerita secara runut, namun orangtua tetap perlu mendengarkan untuk membangun nilai diri anak. Balita mengeksplor dunianya melalui bermain peran dan imaginasi. Kadang mereka menceritakan pengalaman imaginatif, gali lebih jauh pikiran dan perasaan anak terkait pengalamannya tersebut, agar anak terstimulasi mengekspresikan pikiran dan perasaannya melalui kata-kata. Balita sering berbicara dengan dirinya sendiri saat bermain, namun hal ini akan hilang seiring bertambahnya usia. Kemampuan anak untuk memahami kata-kata sudah cukup berkembang. Namun orangtua tetap perlu mengusahakan agar ekspresi wajah dan bahasa tubuhnya sesuai dengan pesan yang disampaikan. Hindari kalimat kompleks karena anak belum memahaminya. Meresponi pertanyaan “sepele” anak akan mendorong anak bertanya tentang dunia dan pengalamannya, sehingga pemahaman anak dapat berkembang. Bila orangtua tidak mengetahui jawabannya, carilah bersama-sama. Sehingga anak belajar bahwa orangtua bukanlah sosok yang serba tahu, dan bahwa tidak memiliki jawaban atas suatu pertanyaan merupakan hal yang normal. Di sisi lain, anak belajar mencari jawaban atas pertanyaan yang ia miliki.   Selamat berkomunikasi dengan anak secara positif...

Mengatasi Tantrum

Rasa marah telah ada sejak bayi. Kemarahan menjadi tantrum karena kemampuan pengendalian emosi yang rendah. Anak mulai menunjukkan perilaku tantrum di usia 1 atau 2 tahun. Mereka mulai memiliki keinginan, dan menjadi marah ketika dihalangi. Anak usia 1 tahun umumnya belum mengekspesikan kemarahannya dengan memukul ataupun menggigit orangtua. Biasanya mereka berguling-guling di lantai atau menangis dan berteriak.   Ketika tantrum, ada beberapa prinsip yang perlu diingat: Tidak menyerah dan mengikuti keinginan anak agar tidak menjadi “senjata” untuk memperoleh keinginannya. Sebaiknya orangtua menolong menghilangkan kemarahan secepatnya. Pelajari cara efektif menghilangkan tantrum melalui trial and error, karena setiap anak unik. Hindari hukuman fisik karena itu bukan contoh pengendalian emosi yang baik. Tanamkan bahwa perilaku yang diarahkan orangtua adalah perilaku yang seharusnya. Hal itu akan membangun nilai-nilai moral dan etika anak, sehingga akan tetap dilakukan meski tidak diawasi. Pujilah anak ketika melakukan apa yang seharusnya dilakukan. Berusaha memenuhi keinginan anak selama masih dalam batas kewajaran, sehingga meminimalkan kemarahan dan membangun kepercayaan anak pada orangtua.   Bila prinsip-prinsip di atas kita tanamkan, maka hal itu akan membangun generasi yang sehat fisik dan pandai secara intelektual,  juga matang dalam pengendalian...

Gadget dan Balita

Balita  belajar dengan mencontoh yang mereka lihat, termasuk tontonan di depan layar, baik televisi, komputer, tablet maupun telepon genggam. Rata-rata balita menghabiskan waktu 3,5 jam per hari di depan layar, sedangkan aktivitas fisik hanya 60 menit seminggu. Sehingga banyak balita yang mengalami obesitas. Kesadaran orangtua menyeleksi tontonan anak memang semakin besar, namun ternyata iklan komersial televisi juga perlu diseleksi, khususnya dalam hal preferensi makanan. Iklan komersial televisi untuk balita adalah kebanyakan iklan makanan bernutrisi rendah yang tinggi sodium, lemak, gula, serta rendah serat, mineral dan vitamin yang diperlukan anak. Karena keterbatasan berpikirnya, anak mempercayai pesan iklan yang ditontonnya. Sehingga persepsi balita akan makanan sehat dan kebiasaan makan sehat makin menurun, sedang konsumsi makanan rendah nutrisi meningkat. Akibatnya resiko obesitas dan kerusakan gigi meningkat, keterbatasan pencapaian akademik di usia sekolah, bahkan meningkatnya resiko diabetes, penyakit jantung dan kanker, ketika anak balita tersebut telah menjadi dewasa. Karena itu, kontrol orangtua sangatlah penting bagi perkembangan kesehatan anak. Perhatikan keseimbangan kontrol dan kasih, agar hubungan orangtua  anak tidak didominasi oleh konflik. Balita akan termotivasi mengikuti aturan orangtua bila hubungan anak  orangtua hangat. Kehangatan hubungan orangtua  anak akan menolong anak untuk berkembang dengan baik, termasuk dalam persepsi dan perilaku terkait...